Standar Kecantikan yang (Tidak) Wajib Ditepati

Created by Kolom Remaja Summer Bootcamp Participants
Author: Ghina Athaya

Linimasa media sosialku riuh membicarakan hal yang sama. Debat kusir sana sini membuatku makin penasaran pada inti masalah. Ternyata semua berawal dari seorang perempuan yang berkoar tak terima karena pertunjukan fesyen dari sebuah ritel pakaian dalam wanita dikomplen memiliki standar kecantikan yang begitu tinggi. Tidak ketinggalan, ia juga mengunggah gambar salah satu model dari perusahaan tersebut dan bertanya: Mengapa jadi begini? Aku bingung dengan pertanyaan itu. Tidak ada yang salah dari rupa perempuan cantik yang terpampang di layar ponselku. Begitu pula si pelempar komentar. Keduanya punya paras yang cantik.

Sebelum aku mulai mengerahkan jemari untuk berkomentar, keinginanku sudah terlebih dahulu ditepis oleh komentar yang ia sematkan: Padahal dia (perempuan itu) cuman berkata sesuai logika dan kenyataan? Membuatku bertanya, apa sebenarnya logika dan kenyataan dari sebuah standar kecantikan?  Siapa yang menciptakan logika jika perempuan selayaknya putih, langsing, dan tinggi?

Sejak kecil, aku dikenal sebagai anak yang gemuk. Selalu dituduh menjadi penyebab habisnya beras di rumah. Semua diriku telan mentah-mentah meski umurku baru masuk di tahun kelima. Alhasil, hidupku habis hanya untuk menimbang: Apa yang masuk sudah selaras dengan keringat yang keluar hari ini? Aku rela menahan lapar demi terlihat indah di kaca. Berusaha masa bodoh saat tubuhku berteriak butuh asupan. Setelah itu apa yang terjadi? Nahas, bukan tubuh langsing yang kudapatkan, justru aku berakhir dengan empat jahitan di kepala karena jatuh pingsan terbentur kulkas. Kuingat selama perjalanan ke rumah sakit satu pertanyaan mengitari isi kepalaku: Kalau sudah begini, siapa yang mau disalahkan?

Ternyata sebuah penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan antara media sosial dalam bentuk gambar (seperti Instagram) dan buruknya body image seseorang (Mills, Musto, Williams, & Tiggemann, 2018). Body image sangat berpengaruh pada gaya hidup seseorang, salah satunya pola makan. Dengan hal ini, body image menjadi kunci utama dari munculnya gangguan makan (Culbert, Racine, & Klump, 2015). 

Sebenarnya tidak hanya media sosial yang patut disalahkan. Tak perlu jauh melihat, kadang orang terdekat pun juga melakukan hal yang sama–membandingkan tubuh dan wajah perempuan A dengan perempuan B. Mulanya mungkin hanya ingin asal berceloteh dan tak punya maksud jahat, tetapi hal ini memiliki pengaruh besar. Menghasilkan anggapan seakan-akan manusia, khususnya perempuan, dipaksa untuk terlihat sama satu dengan yang lainnya. Seperti cantik memiliki standar yang harus digapai semua perempuan tanpa pandang bulu.

Terbiasa dipaksa untuk ‘menjadi sama’ bisa membuat seseorang merasa tak nyaman dengan apa yang terlihat di kaca. Menjadikan sesuatu yang mulanya dianggap remeh (seperti bentuk dagu, hidung, bahkan alis) terlihat seperti masalah besar. Fenomena ini disebut dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD), yaitu ketika seseorang sangat terobsesi pada kekurangan fisik mereka (Veale, 2004). Banyak faktor dari munculnya BDD, bisa jadi karna terlalu banyak bercermin, membandingkan diri dengan orang sekitar, atau sempat menjadi korban perundungan. Seseorang dengan BDD biasanya akan melakukan apa saja untuk ‘melenyapkan’ semua kekurangannya, seperti perawatan hingga operasi plastik.

Dampak dari BDD ternyata tak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga orang di sekitarnya. Seperti perempuan di awal cerita, ia mengaku pernah dipermalukan oleh ibunya sendiri karena bentuk fisiknya yang tidak sesuai. Kejadian di masa lalu itu dijadikan alasan mengapa ia bisa mengutarakan komentar pedas mengenai standar kecantikan. Menemukan fakta jika hal yang dulu dia anggap cantik kini tak lagi sama.

Mulai dari buka mata hingga ditutup lagi, kita sudah terbiasa terpaku pada layar ponsel. Melihat swafoto teman yang tak takut pakai baju tanpa lengan, wajahnya bahagia seakan tak ada yang harus ditutupi. Kemudian ketika melihat foto selanjutnya kita berpikir tentu saja tubuhnya bagus karena dia selalu makan daun-daunan, tempe, dan segala hal yang dianggap sehat. Pikiran buruk muncul lagi: Kapan terakhir aku makan seperti ini? Pantas saja tubuhku begini-begini saja!

Fenomena seperti ini seakan sudah tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin aktivitas makan sehat dan berolahraga bisa dibungkus rapi sebagai ‘clean habits’ yang bagus untuk fisik. Tetapi untuk kesehatan mental, hal ini akan cukup problematis. Seperti ungkapan dari penulis buku ‘Beyond Beautiful’, Anuschka Ress: bentuk diet seperti apapun akan merusak hubungan alami kita dengan makanan. 

Sebuah studi yang dapat mendukung ungkapan Ress adalah Minnesota Semistarvation Experiment yang dilakukan pada tahun 1944. Tiga puluh enam lelaki dengan fisik dan mental yang stabil dibatasi pemasukan kalorinya menjadi 1.600 kalori selama enam bulan. Dalam jangka waktu tersebut, para lelaki itu menjadi obsesif terhadap gaya hidup baru mereka. Mereka jadi lebih sering membicarakan soal apa yang mereka konsumsi dan bagaimana cara pembagian kalori mereka setiap hari.

Kita mungkin pernah merasakan efek dari perubahan pola makan, seperti mengira-ngira jumlah karbohidrat dan lemak pada makanan. Atau menentukan jadwal kapan kita bisa makan es krim di kulkas. Setelah makan pun tak jarang kita menyesal karena jumlah gula yang terlalu besar; lebih buruk lagi jika penyesalan itu sampai dibawa ke ranah ekstrem, seperti menolak makan keesokan harinya atau minum obat pencahar. Semua berulang seperti tak punya ujung. 

Tentu aku tidak akan menyuruh kalian makan es krim atau junk food setiap harinya. Hanya saja, rasanya tidak bijak untuk mengelompokkan (atau bahkan menangisi) makanan. Karena tidak ada yang memalukan dari semangkuk es krim atau satu potong kue. Jika kalian masih ragu, nampaknya Evelyn Tribole dan Elyse Resch (1990) punya solusinya: Intuitive Eating yang memegang ‘Makan ketika kamu ingin makan, jangan makan kalau tidak ingin makan’. Kelihatannya mudah, bukan? Karena memang seharusnya manusia menggunakan instingnya untuk makan. Banyak studi yang mendukung jika intuitive eating bisa membawa relasi yang lebih baik terhadap makanan. 

Tetapi untuk orang yang sudah lama terjebak pada kultur diet, terlebih yang ekstrem, pasti membutuhkan waktu lebih lama. Mengingat masih ada banyak diet yang justru tidak menyehatkan. Ia menertawakan apa isi piring kita dan menganggap remeh jam olahraga kita  yang tak seberapa. Padahal sejatinya, diet kita gunakan sebagai alat untuk mendapatkan tubuh yang sehat. Makanan dan olahraga kita jadikan sebagai sumber tenaga untuk beraktivitas. Tetapi banyak sekali diet yang hanya menjanjikan kurus sebagai satu-satunya tujuan akhir. Caranya juga terkadang tak masuk akal, contohnya seperti hanya makan satu kelompok makanan tertentu dalam jangka waktu yang singkat. Diet seperti ini hanya bisa merusak hubungan seseorang dengan makanan, bahkan bisa menjerumuskan mereka pada gangguan makan. Memang sudah seharusnya prinsip ‘sehat tak harus kurus’ tertanam di kepala. Semua manusia, terlepas dari bentuk tubuhnya, memiliki value yang setara. 

Tapi apa betulan bisa? Belum kalau diancam tak pernah kurus oleh iklan pelangsing, melihat figur model dengan badan bagus terpampang besar di baliho, atau wajah teman-teman terdekat saat mendengar kita mengikuti pola makan tanpa aturan. Lagi-lagi, isi pikiran kita hanya berpaku pada satu kalimat yang sama: Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi?

REFERENSI

Mills, J., Musto, S., Williams, L., & Tiggemann, M. (2018). “Selfie” harm: Effects on mood and body image in young women. Body Image, 27, 86–92.

Culbert, K. M., Racine, S. E., & Klump, K. L. (2015). Research review: What we have learned about the causes of eating disorders—A synthesis of sociocultural, psychological, and biological research. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 56, 1141–1164. https://doi.org/10.1111/ jcpp.12441 Dahlenburg, S. C

Ress, A. (2019). Beyond Beautiful. Berkeley.  Beyond Beautiful. Berkeley: Teen Speed Press, p. 144-145
Veale, D. (2004). Body dysmorphic disorder. Postgraduate Medical Journal, 80(940), 67–71. doi:10.1136/pmj.2003.015289

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *