Stress Coping Mechanism: Berdamai dengan Stres

Ditulis oleh: Callula Davina
Ilustrasi oleh: Rico W Lullulangi

“Bagai bintang yang jatuh, jauh terburu waktu”

Tidak semua orang familiar dengan kalimat tersebut, yang merupakan penggalan lirik dari lagu “Beranjak Dewasa” oleh Nadin Amizah, seorang penyanyi dan penulis lagu berkewarganegaraan Indonesia. Bagiku, lirik tersebut sangat menceritakan tentang diriku, bagaimana ketika memasuki umur remaja, dunia seakan memintaku untuk menjadi dewasa seketika. Di keluargaku, aku dianggap sudah bisa melakukan semuanya secara mandiri. Seperti remaja pada umumnya, aku pun kaget, namun tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memikul tanggung jawab baruku. 

Di masyarakat, masa remaja kerap dianggap sebagai masa pendewasaan dan peralihan antara masa anak-anak dan dewasa, namun tidak dianggap sebagai salah satunya. Tidak adanya garis pembatas yang jelas menimbulkan sebuah kerancuan identitas, sudah terlalu tua untuk bermain bersama anak kecil namun  terlalu muda untuk bercengkrama dengan orang dewasa.

Bagiku, remaja adalah rentang waktu yang dihabiskan untuk berdebat dengan diri sendiri untuk menemukan titik tengah antara apa yang ingin kulakukan (baik di masa sekarang dan masa depan) dan apa yang orang lain harapkan dariku (dan sepantasnya kulakukan). Seiring waktu, perdebatan internal yang terus menerus pada akhirnya menimbulkan sebuah konflik internal dalam diriku. 

Konflik internal di kalangan remaja bukanlah hal yang asing seiring remaja digolongkan sebagai waktu perkembangan fisiologis, emosi, dan sosial sebelum memasuki fase dewasa (Azizah, 2013) sehingga membuat remaja membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Saat proses adaptasi berlangsung, tidak dapat dipungkiri remaja dapat mengalami stres, baik disadari ataupun tidak. Stres dapat dianalogikan sebagai teman hidup yang akan selalu hadir, baik disukai atau tidak, karena merupakan reaksi alami tubuh apabila menghadapi tekanan ataupun perubahan. Stres, baik di kalangan dewasa maupun remaja, biasanya dapat ditangani melalui stress coping mechanism, yaitu perilaku individu untuk mengatasi stres dengan menghindari, menjauhi, dan mengurangi stres, dengan tujuan memulihkan diri dari stres tersebut (Andriyani, 2019). 

Kenapa Stress Coping Mechanism penting? 

Stres sering ditemukan pada kehidupan sehari-hari sehingga menemukan solusi yang efektif untuk menghadapi stres sangatlah penting. Bila tidak ditangani, stres berkepanjangan akan memberikan beberapa dampak negatif yang terbagi menjadi tiga aspek, yaitu masalah kesehatan (fisiologis), kemasyarakatan (sosiologis), dan burn out (psikologis).

Secara fisiologis, ketika seseorang  mengalami stres, stres dapat membuat nafas dan detak jantung menjadi lebih cepat, otot menjadi kaku, dan tekanan darah meningkat (Alodokter, 2019). Tidak hanya perubahan pada organ tubuh, stres dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang beragam seperti sakit kepala akibat ketegangan otot dan saraf, flu akibat penurunan imunitas tubuh, dan gangguan pencernaan akibat timbulnya reaksi pada perut (Honestdocs, 2019). 

Secara sosiologis, stress coping mechanism dapat menjadi cara individu untuk melepas stres dan bila tidak dilakukan dapat merugikan masyarakat sekitar. Contohnya ketika seorang karyawan kantor sedang mengalami stres, tanpa disadari karyawan lain juga dapat mengalami stres. Dengan kata lain, stres dapat menular melalui ekspresi wajah atau penggunaan bahasa tertentu dan menurut seorang profesor psikologi bernama Jaideep Bains, manusia kerap mengkomunikasikan stres mereka kepada orang lain tanpa disadari (New York Post 2018). 

Secara psikologis, stres membuat  pikiran manusia lelah yang bisa berdampak pada psikis dan mental. Apabila kelelahan tersebut tidak segera diatasi, dikhawatirkan stres dapat mengakibatkan burn out, yaitu kelelahan secara emosional, fisik, dan mental akibat stres berkepanjangan (Shinn et al., 1984).  Burn out juga dianggap sebagai sindrom kelelahan emosional (Rosyid, 1996). Burn out dapat menyebabkan gangguan tidur akibat beban pikiran dan emosi, dan depresi (Honestdocs, 2019). Apabila masyarakat melakukan stress coping mechanism, maka burn out dapat dicegah. 

Bentuk dan Penerapan Stress Coping Mechanism pada Kehidupan Sehari-hari

Setelah menyadari betapa pentingnya stress coping mechanism, penting juga untuk mengetahui bentuk dan penerapannya. Stress coping mechanism terbagi menjadi dua, yaitu problem focus coping dan emotional focus coping. Problem focus coping merujuk pada upaya untuk mengatasi masalah penyebab stres, contohnya ketika kamu stres akibat kelelahan belajar, kamu dapat beristirahat sejenak terlebih dahulu. Sementara itu,  emotional focus coping adalah upaya internal untuk mengatur emosi saat terdampak stres, seperti mendengarkan lagu untuk memperbaiki mood ketika stres.

Problem focus coping dan emotional focus coping memiliki tujuan yang sama, namun memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihan problem focus coping ialah metode tersebut bertujuan untuk menghilangkan penyebab stres, namun tidak serta merta langsung menyelesaikan emosi negatif yang disebabkan oleh rasa stres sehingga lebih cocok bagi orang-orang yang dapat mengontrol emosi di bawah tekanan. Sedangkan, emotional focus coping berfokus untuk memperbaiki mood setelah menghadapi masalah untuk menjernihkan pikiran dan menenangkan perasaan sehingga membuatnya lebih  cocok bagi orang yang merasa overwhelmed di bawah tekanan dan bertujuan untuk menentramkan emosi terlebih dahulu sebelum menyelesaikan penyebab stres. 

Dari sini, dapat dilihat bahwa jenis stress coping mechanism yang berbeda memiliki karakteristiknya tersendiri, maka setiap orang memiliki stress coping mechanism mereka masing-masing. Ada yang lebih memilih untuk beristirahat, dan ada juga yang mencari pelarian lain seperti mengerjakan  hobi atau bersenang-senang dengan orang lain. Oleh karena itu, tidak ada coping stress mechanism yang benar atau salah. 

Namun, tidak semua kegiatan dapat menjadi upaya stress coping mechanism yang efektif. Stress coping mechanism yang efektif adalah aktivitas yang berdurasi singkat dan tidak mempengaruhi produktivitas tubuh seperti power nap, yaitu beristirahat dengan periode yang singkat atau menonton Youtube dan acara televisi favorit (Kompasiana, 2019). Singkat kata, stress coping mechanism yang efektif dapat menyegarkan pikiran dan fisik untuk mengembalikan  produktivitas. Di sisi lain, aktivitas-aktivitas yang berdampak negatif pada kesehatan dan dapat membahayakan masyarakat seperti mabuk-mabukkan dan mengkonsumsi narkoba tidak bisa menjadi stress coping mechanism yang efektif. 

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, sama halnya dengan stres. Stres dapat dicegah dengan melihat kembali penyebab stres di masa lalu. Seperti pengalamanku, aku mengalami stres ketika menghadapi pekerjaan yang menumpuk, maka upayaku untuk menghindari stres kedepannya adalah dengan menentukan target dalam menyelesaikan pekerjaan sembari tetap meluangkan  waktu untuk beristirahat yang cukup. 

Selain itu, stres dapat dihindari dengan mengubah mindset kita ketika  menghadapi suatu peristiwa, terutama yang memberikan ketidaknyamanan, perubahan, dan tekanan. Kita dapat mengubah mindset menjadi lebih positif dengan tidak terlalu mengkhawatirkan peristiwa yang akan terjadi. Sehubungan dengan ini, aku selalu berpatok kepada kutipan berikut,

If you’re thinking about something that hasn’t happened, you’ll get through it twice

Dengan kata lain, jika kamu memikirkan tentang hal yang tidak menyenangkan (seperti ujian) sebelum kamu melewatinya, maka kamu akan mengalami stres dua kali lipat. Dibanding memikirkan peristiwa yang akan membuat kita tertekan, kita bisa bersiap semaksimal mungkin, mengerahkan segenap usah, bersikap optimis, dan menjalankannya  dengan ikhlas. 

REFERENSI

Alodokter 2019, Stres, viewed 11 January 2021, https://www.alodokter.com/stres 

Andriyani, J., 2019. Strategi Coping Stres dalam Mengatasi Problema Psikologis. Jurnal At-Taujih: Bimbingan dan Konseling Islam, 2(2).

Azizah, 2013. Kebahagiaan dan Permasalahan di Usia Remaja (Penggunaan Informasi dalam Pelayanan Bimbingan Individu). KONSELING RELIGI: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 4(2).

Honestdocs 2019, 13 Penyakit Akibat Stres dari Ringan hingga Berat, viewed 12 January 2021, https://www.honestdocs.id/penyakit-akibat-stress#:~:text=Penyakit%20akibat%20stres%20yang%20tergolong,diabetes%2C%20penyakit%20jantung%20hingga%20depresi

Kompas 2019, Mengenal Power Nap, Tidur Singkat yang Efektif Kembalikan Energi, viewed 13 January 2021, https://lifestyle.kompas.com/read/2019/07/15/110500120/mengenal-power-nap-tidur-singkat-yang-efektif-kembalikan-energi 

New York Post 2018, Stress Really is Contagius Study, viewed 12 January 2021, https://nypost.com/2018/03/09/stress-really-is-contagious-study/ 

Oktarina, R., Krisnatuti, D. & Muflikhati, I., 2015. Sumber Stres, Strategi Koping, dan Tingkat Stres pada Buruh Perempuan Berstatus Menikah dan Lajang. Jur. Ilm. Kel. & Kons., 8(3), pp. 133-141.

Rosyid, H. F., 1996. Burnout: Penghambat Produktivitas yang Perlu Dicermati. Buletin Psikologi, IV(1).

Shinn, M., Chesnut., D. E., Rosario, M. & Morch, H., 1984. Coping with Job Stress and Burn-out in the Human Service. Journal of Personality and Social Psychology, 46(4).

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *